Perang di Mata Keluarga Nakaoka

Saya selalu menyukai hal-hal yang dapat mengubah sudut pandang saya. Rasanya seperti mencoba wahana baru di taman bermain. Saya tak pernah menyangka apa yang akan saya rasakan saat atau setelah menaiki wahana itu. Salah satunya membaca suatu karya dengan sudut pandang yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan. Keiji Nakazawa menggambarkan dengan jelas hal yang sukai itu melalui komiknya Gen Si Kaki Ayam. Setting komik ini adalah di Kota Hiroshima saat Perang Pasifik sedang  panas-panasnya. Kita semua tahu bahwa Kota Hiroshima menjadi salah satu kota yang dijatuhi bom atom oleh sekutu pada Agustus 1945, tapi yang tak banyak kita tahu ternyata tak semua orang Jepang setuju dengan peperangan melawan komplotan Amerika dan Inggris itu.

Keluarga Nakaoka, sebuah keluarga miskin kecil di Kota Hiroshima yang terang-terangan menentang perang karena berpendapat perang adalah kegiatan yang sia-sia. Kenapa Jepang tidak menyerah saja dan menghentikan semua kegiatan konyol serangan-serangan dari musuh yang mengancam nyawa warga Jepang? Bagi keluarga Nakaoka, keselamatan nyawa dan perdamaian adalah segalanya. Namun bagi orang Jepang yang bersemangat melawan sekutu, harga diri adalah segalanya, mati karena perang adalah terhormat meski sia-sia. Hal sia-sia itu dilukiskan dalam komik sebagai acara rutin pelatihan menggunakan senjata bambu runcing yang wajib diikuti seluruh lelaki dewasa penduduk kota, padahal senjata Amerika dan Inggris jauh lebih canggih dan tak butuh mengorbankan banyak nyawa tentaranya. Itulah kesedihan perang yang dilihat Daikichi Nakaoka. Selain itu penderitaan-penderitaan lainnya akibat perang adalah kelaparan, terpisah dengan keluarga, sampai ‘perang-perang kecil’ antar teman atau saudara. Naif sekali rasanya jika Jepang terus melanjutkan perang dan mengorbankan banyak nyawa pemudanya untuk menjadi sukarelawan angkatan laut.

Salah satu dari sukarelawan itu adalah Koji Nakaoka, anak sulung Daikichi Nakaoka dan istrinya, Kimie Nakaoka. Koji menjadi sukarelawan hanya karena tak ingin keluarganya dikucilkan masyarakat karena dianggap pengkhianat yang melawan perang. Hal ini sungguh kontras dengan pendirian Daikichi Nakaoka, yang sangat menentang perang dan menginginkan perdamaian. Konflik penuh air mata dalam komik ini digambarkan dengan pertengkarang antar keluarga karena perbedaan pendapat mengenai perang. Rumit. Inilah yang dimaksud ‘perang-perang kecil’ antar anggota keluarga akibat perang. Gen Nakaoka, tokoh utama dalam komik ini adalah seorang siswa sekolah dasar yang memiliki semangat tinggi melawan siapapun yang menghina keluarganya. Ia bisa menggigit jari orang yang mengolok-olok ayahnya sampai putus, atau melempari kaca jendela mereka dengan batu. Sampai ia dipanggil orang-orang sebagai berandal cilik. Sampai pada suatu hari yang cerah sebuah bom terjun dari kapal udara Amerika dan mengguncang dengan tragis dataran Kota Hiroshima. Ribuan nyawa tergeletak terbunuh radiasi nuklir. Gen sebagai tokoh utama yang tak mungkin mati, berlarian mencari anggota keluarganya dengan kaki tanpa alas (maka disebut Gen Si Kaki Ayam). Tragedi ini tak bisa diceritakan dengan kata-kata, yang jelas maksud dari komik ini adalah mengajak kita melihat tragedi bom Hiroshima dengan sudut pandang lain.

Saya rasa, pesan yang disampaikan komik ini sangat jelas dan berterus terang. Tak ada hal baik yang ditimbulkan oleh sebuah perang. Tak ada kemenangan ataupun kekalahan. Hanya kehancuran. Dan tentu saja, siapapun tak ingin realitas menyedihkan dari sejarah dunia itu terulang kembali.

Advertisements