Penjara sebagai Sekolah

Saya baru selesai membaca terjemahan karya Voltaire, Si Lugu yang dalam bahasa aslinya berjudul L’Ingenu. Ini pertama kalinya saya membaca karya sastrawan Perancis abad 18 tersebut. Dalam karyanya, Voltaire menceritakan kehidupan tokoh yang diberinya nama Si Lugu. Sesuai namanya, Si Lugu menjalani hidup dengan jujur, apa adanya, dan dengan sikap alamiah. Sangat jujur dan menyadarkan kita bahwa kita terlalu memikirkan hal-hal rumit sehingga melupakan yang sederhana dan perlu. Banyak yang bilang, karya-karya Voltaire lebih seperti dongeng. Ada hal-hal terlalu ajaib untuk terjadi pada kenyataan. Misalnya saja, dalam buku ini, Si Lugu yang asli orang Kanada, ditawan oleh Inggris sampai ia berada di dataran Perancis dan bertemu dengan seorang pastor beserta adiknya. Tanpa perlu banyak tokoh yang diceritakan, atau alur yang kompleks dan masuk akal, tiba-tiba ternyata mereka saudara jauh. Hal itu tentu terlalu ‘ajaib’ untuk sebuah kisah nyata, jadi terkesan seperti dongeng. Di luar keajaiban itu, cerita membawa kita pada acara pembabtisan Si Lugu menjadi seorang katolik. Dengan lugunya, ia mentah-mentah mengambil sikap sesuai apa yang ada di kitab yang diberikan pastor, menentang segala ritual pembabtisan yang telah dimodifikasi sedemikian rupa oleh manusia dan tidak ada di kitab. Simpel saja bagi Si Lugu, ia hanya mau melakukan apa yang diperintahkan di kitab, bukan ritual yang telah lama dilakukan sang pastor dan penganut agama katolik di dunia. Kritis dan mengiris.

Voltaire menyamar menjadi Si Lugu untuk dapat mengkritisi apa yang ia ingin kritisi tanpa perlu takut dihujat banyak orang. Karena Si Lugu hanyalah Si Lugu, orang polos yang berpikir secara alamiah dan tidak pernah meracuni pikirannya dengan prasangka, segala pendapatnya patut dimaklumi. Dengan topeng Si Lugu itulah Voltaire bebas berpendapat secara jujur dan alamiah, bertanya pertanyaan yang lama ingin ia tanyakan tapi rasanya tak pantas jika bukan orang polos yang menanyakan. Sama seperti saat Si Lugu jatuh cinta dengan gadis cantik, Nona de Saint-Yves. Tindakan alamiah orang jatuh cinta bagi Si Lugu adalah kawin, dan bukannya merepotkan diri dengan ritual melamar-menikah dan sebagainya yang  membosankan. Hal itu membuat keluarga Nona de Saint-Yves menjauhkan mereka dengan mengirim gadis cantik itu ke biara.

Perpisahannya dengan kekasihnya menyebabkan Si Lugu masuk penjara dan bertemu Gordon, seorang tua pengikut jansenisme yang selanjutnya akan menjadi sahabatnya. Penjara bagi Si Lugu yang diberikan Voltaire adalah penjara yang asik. Si Lugu punya banyak waktu luang membaca koleksi buku-buku Gordon, mulai dari matematika, astronomi sampai filsafat. Penjara sama sekali bukan suatu yang menakutkan. Membaca memang suatu hobi yang membutuhkan banyak waktu, kita manusia dengan pikiran yang tak lugu lagi ini dengan segala kesibukan pasti mendambakan suatu tempat terisolasi, waktu luang, dan tumpukan buku bacaan—Voltaire memberikan penjara. Penjara justru merupakan tempat yang memberikan kemajuan pesat pada pemikiran Si Lugu. Si Lugu ibarat botol kosong yang diisi air. Komentar-komentarnya jujur, terus terang, bebas prasangka, sederhana, tetapi sangat kritis dan tajam. Sementara di luar sana, kekasihnya berusaha mengeluarkannya dari penjara dengan mempertaruhkan segalanya. Diringkas secara dramatis layaknya sebuah roman sedih. Namun tak meninggalkan kritik tajam khas Voltaire. Masih untung Voltaire tak membuat semua tokohnya menjadi gila.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s