Hal Paling Menakutkan

Ada hal yang paling kutakutkan di dunia ini, yaitu kesia-siaan. Aku merasa berjalan di jalan yang salah, kemudian kuputuskan mengambil jalan lain yang ternyata tak lebih baik. Sebab di seberang ada jalan yang terus merayuku menapakinya, namun di tengahnya ada sungai yang harus kuseberangi. Untuk menyeberangi sungai itu, aku butuh alat yang dapat menghubungkanku ke sana, bolehlah kupikir sesuatu mirip rakit atau yang fungsinya sama, sebab tak mungkin ada jembatan—kecuali aku mau membangun jembatanku sendiri. Sungai itu arusnya tak tenang, namun tak terlalu deras. Bisa saja ada ular atau buaya di sana yang diam-diam dapat memakan kakiku. Aku juga tidak tahu mengapa dari semua anggota tubuhku, yang kupikir akan dicaplok ular duluan adalah kaki. Kenapa bukan otak, seperti incaran para zombie? Barangkali memang kaki yang terus melangkah di atas jalan yang kebenarannya akan selalu menjadi sebuah paradoks. Barangkali memang otak yang tak berhenti berpikir untuk takut pada kesia-siaan. Aku belum menemukan rakit, bahkan sebongkah kayu yang bisa kupeluk untuk mengantarkanku ke sana.

Orang-orang di seberang jalan itu selalu kuanggap orang-orang paling jenius. Aku hanya bisa memperhatikan mereka, cara mereka berpikir, cara mereka hidup, cara mereka berjalan, sampai cara mereka bermain. Sedang orang-orang di sini adalah orang-orang yang tak ingin kupercaya. Namun kukira, di seberang jalan sana, di tengah orang-orang jenius, aku akan menjadi si kerdil yang kosong. Di sini pun aku bukan raksasa berotot. Kambing-kambing yang digembala, memamahbiak rumput di mana saja, dan digiring masuk kandang bila sudah waktunya.

Ternyata aku kambing. Takut pada kesia-siaan. Ingin menyeberang jalan.

Pak polisi, bantu kambing menyeberang jalan.

Pertanyaan Mengapa yang Panjang dan Membosankan

Mengapa?

Mengapa kita?

Mengapa kita berusaha?

Mengapa kita berusaha keras?

Mengapa kita berusaha keras meminta?

Mengapa kita berusaha keras meminta-minta kepada Tuhan?

Mengapa kita berusaha keras meminta-minta kepada Tuhan agar tercapai?

Mengapa kita berusaha keras meminta-minta kepada Tuhan agar tercapai tujuan duniawi kita?

Rizki yang lancar, umur yang panjang, jodoh yang terbaik, hidup yang sukses.

Mengapa?

Mengapa bukan?

Mengapa bukan mati yang sukses?

Mengapa bukan mati yang sukses, sehingga tak perlu meminta-minta urusan duniawi lagi?

Mengapa bukan mati yang sukses, sehingga tak perlu meminta-minta urusan duniawi lagi, dan kita hanya menyembah?

Mengapa bukan mati yang sukses, sehingga tak perlu meminta-minta urusan duniawi lagi, dan kita hanya menyembah Tuhan?

Mengapa kita menyembah Tuhan?

Mengapa kita menyembah Tuhan hanya karena kita meminta-minta?

Mengapa kita menyembah Tuhan hanya karena kita meminta-minta urusan duniawi yang tercapai?

Coba Mati Ketawa Cara Slavoj Žižek

Sebuah gurauan dari awal tahun 1960an dengan bagus menggambarkan paradoks dari keyakinan hasil praanggapan. Yuri Gagarin, kosmonot pertama yang pergi ke ruang angkasa diterima oleh Nikita Khruschev, sekretaris jenderal Partai Komunis, dan Gagarin memberitahunya diam-diam: “Kau tahu, kamerad, di langit atas sana aku melihat surga dengan Tuhan dan para malaikatnya—agama Kristen itu benar!” Khruschev berbisik balik padanya: “Aku tahu, aku tahu, tapi diam sajalah, jangan bilang siapa-siapa!” Minggu berikutnya Gagarin mengunjungi Vatikan dan disambut oleh Sri Paus, yang kepadanya ia mengaku: “Anda tahu, Bapa Suci, saya ada di langit atas sana dan tak melihat Tuhan maupun malaikat …” “Aku tahu, aku tahu,” potong Sri Paus, “tapi diam sajalah, jangan bilang siapa-siapa!”

 

Žižek, Slavoj. 2014. Mati Ketawa Cara Slavoj Žižek. Tangerang: Marjin Kiri.